Selasa, 03 Mei 2011

hidup itu belajar

Judul di atas tampaknya sederhana saja. Persoalannya adalah apakah kita cukup belajar untuk 'hidup'? atau hidup untuk belajar?
Mereka yang belajar untuk 'hidup' cukup mengantongi ijazah dan selesailah tugasnya untuk belajar. tapi berbeda jika hidup untuk belajar.


Masa belajar orang kota ternyata lebih lama daripada masa belajar orang desa. Lebih pendek lagi masa belajar kaum hewan. Semakin tinggi peradaban, semakin lama pula masa belajar seseorang. Di kota, manusia dihargai dari lama atau tidaknya ia belajar. Kalau anda hanya sekolah 6 tahun, gaji anda akan kalah dengan mereka yang menghabiskan masa sekolahnya 12 tahun. Itulah peradaban yang sekarang kita jalani . 50 tahun yang lalu gelar 'Drs.' membuat anda cukup populer di lingkungan anda, tapi sekarang anda harus belajar sampai S3 untuk mencapai kondisi yang sama.


Tetapi, belajar itu kenyataan, sedangkan ijazah serta gelar itu cuma simbol. Celakanya dimanapun orang mudah diperdaya oleh simbol. Setiap iklan pencari keja di majalah dan surat kabar menentukan pesyaatan simbol tadi. Dan tenyata kita selalu dicurigai dengan simbol keterampilan yang kita miliki. Pengalaman membuktikan bahwa 'simbol' lebih mujarab daripada yang disimbolkan.Orang-orang kok mau-maunya membayar sekian juta untuk cepat memperoleh simbol kesatjanaan tanpa beajar sungguh-sungguh. Inilah ekses dari belajar itu untuk Hidup. Dan bukan hidup untuk belajar.

Mereka yang berpegang teguh pada 'hidup itu belajar' tidak membutuhkan simbol, bahkan juga tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun. Mereka yang belajar seumur hidupnya tidak mementingkan ijazah dan simbol. Ada pepatah mengatakan 'tidak belajar satu hari berarti mundur satu hari'.
Suka 'hidup belajar' seperti ini semakin luntur sekarang. Orang lebih menyukai kemasan pikiran, lebih baik lagi kalau seragam. Berbagai paket ini mengandaikan bahwa masa belajar ini ada waktunya dan diakhiri dengan upacar, pesta dll. Hidup menjadi serangkaian upacara yang tingkatannya semakin rumit dan seakan-akan hidup itu menikmati hasil.Bukan serangkaian 'penderitaan' belajar. Orang yang tidak suka belajar tidak akan suka mencari dan tidak akan bisa maju dalam arti yang sesungguhnya.

Orang memang membaca juga, tetapi hanya untuk 'membuang waktu' bukan 'mengisi waktu'.Orang memang perlu belaja untuk 'hidup', tetapi belajar untuk hidup ini tak banyak artinya jika tidak dilandasi asas 'hidup itu belajar'. Meskipun kita belajar sampai tua, dalam bidang apapun tak pernah 'tamat'.
Emas itu bisa dinilai, tetapi belajar itu tak ternilai. Anda boleh mewariskan emas intan bagi anak anda, tetapi lebih baik lagi klaau anak anda mampu mewujudkan 'Gudang Intan Nabi Sulaiman' dengan otak mereka.



sumber : buku (Orang Baik Sulit Dicari, Jakob Sumardjo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar