seorang kyai yg baru saja menceritakan perihal keadaan surga & neraka kepada jamaah, ditanya oleh seorang pemuda.
* pemuda : Kyai, boleh saya
bertanya?
* kyai : silahkan,,, (jawab kyai)
* pemuda : dari tadi kyai bercerita begitu terang benderang mengenai surga & neraka, apakah kyai sudah pernah ke sana?
* kyai : (dgn ramah menjawab)
belum, saya belum pernah ke sana.
* pemuda : (mengomel) belum pernah ke sana saja, ceritanya seperti sudah ke sana?
* kyai : bagaimana dgn saudara?
* pemuda : maksud kyai?
* kyai : saudara percaya/tidak, tentang adanya surga & neraka?
* pemuda : (dgn sombong menyahut) tdk, saya tdk percaya. Di sana tdk ada apa2. Tdk ada surga, tdk ada neraka. Manusia klw sudah mati habis perkara. Tdk ada apa2 lagi.
* kyai : saudara yakin bahwa di sana tdk ada surga & neraka?
* pemuda : yakin betul.
* kyai : saudara yakin klw tdk ada apa2, apakah saudara pernah ke sana?
* pemuda : belum (jwab pemuda terlengak).
* kyai : belum ke sana, seolah-olah sedah pernah ke sana.
Akhirnya pemuda itu mengakui kekeliruannya krn memang demikian kenyataannya. "yg percaya bahwa di sana ada alam keabadian dgn surga & neraka, belum pernah ke sana. Yg percaya di sana tdk ada apa2, juga blm pernah ke sana." bukankah jika direnungkan, lbih baik prcaya dripada tdk prcaya?